Selasa, Februari 14, 2023

Pendidikan Guru penggerak Angkatan 6 pada saat ini, sudah memasuki pada modul ke-3 di bulan Februari 2023 sampai pada tugas 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Pada koneksi antar materi di modul 3 ini tentu saya harus merefleksi kebelakang padaa modul-modul terdahulu. Tentunya semua ilmu-ilmu yang sudah didapat tersebut akan sangat berguna dan bermanfaat untuk mewujudkan merdeka belajar. 

Sekilas kita lirik kembali konten  materi modul 1- 3CGP yang sudah dipelajari sebelumnya yuk...














Dari tabel  diatas dapat dilihat tema dari masing-masing modul dan bagaimana koneksinya dari modul-modul yang telah di pelajari? Modul 1. Paradigma dan Visi Guru Penggerak. Modul 1.1. filosofi pendidikan yang disampaikan oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 
Di dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin (guru) harus menerapkan sistem among (menuntun) agar mampu mendorong tumbuh kembangnya potensi siswa. Modul 1.2. Nilai dan peran guru penggerak. Modul 1.3. Visi Guru Penggerak. Modul 1.4. Budaya Positif Modul 2 membahas tentang pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Modul.Modul 2.1. Pembelajaran yang berdiferensiasi. Modul 2.2. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Modul 2.3. Coaching untuk supervise akademik. 
Sesuai dengan yang tertera di dalam LMS bahwa dalam membuat koneksi antar materi pada modul 3.1 ini berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berikut: 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang triloka berpengaruh terhadap proses seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantoro dan sampai menjadi landasan berpijak pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya. Filosofi ini jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan selalu berpihak kepada murid untuk menjadikan generasi cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila. Transfer nilai -nilai kebajikan dapat kepada siswa secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggungjawab dan berpihak kepada murid. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? 
Proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani dengan memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah tak terkecuali murid-murid kita. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Sebagai manusia yang beragama, kita yakin apapun yang kita lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pula dengan pengambilan keputusan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan – kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? 
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya Setelah mengikuti modul 2 tentu CGP sebagai pendidik memiliki keterampilan coaching. Salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang baik memberi gambaran utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan-keputusan dengan teknik coaching yang berlandaskan Tirta dan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah. Pada coaching seorang coaching tidak menggurui akan menimbulkan rasa nyaman sehingga coach mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Menggali dengan pertanyaan-pertanyaan agar coachee melakukan Analisa jawaban sebagai sebuah pemecahan masalah. Keputusan yang diambil telah efektif terbukti dari apayang dilakukan coachee menemukan sendiri hambatan-hambatannya. Hambatan selama PBM. Bahwa terdapat pertanyaan dalam diri tentu ada misalkan apakah benar tadi menyampaikan pertanyaan tersebut? Bisa ndak ya coachee melakukan itu? Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi kondusif dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik. Keterampilan coaching juga dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Dengan coaching guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan seluruh siswanya dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah sesuai dengan kodrat zaman dan kodrat alam. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 
Mengelola sosial emosional akan berpengaruh pada pengambilan keputusan. Guru/ pendidik menyadari setiap keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, apakah masalah tersebut dilemma etika atau bujukan moral serta regulasi yang ada dan melakukan 9 langkah pengambilan keputusan. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Rasa empati pada apa yang peserta didik alami, tentu dengan mengidentifikasi permasalahan, diharapkan dalam pengambilan keputusan dapat berpihak pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Sembilan keputusan tersebut yaitu: 
• Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan 
• Menentukan siapa saja yang terlibat 
• Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan 
• Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola 
• Pengujian paradigma benar lawan benar 
• Prinsip Pengambilan Keputusan 
• Investigasi Opsi Trilemma 
• Buat Keputusan 
• Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 
 Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik. Empati dan simpati yang terlatih akan mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak. Tentu saja rasa empati dan pengelolaan diri dengan kesadaran penuh (Mindfulness) akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika ataukah bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Dampak dari keputusan akan yang dihasilkan baik itu problem dilemma etika ataupun bujukan moral akan berpengaruh pada peserta didik, berpihal atau tidak. Tentu berpengaruh pada imlementasi pembelajaran dan mempengaruhi situasi di sekolah. Pengambilan keputusan yang berdasarkan pada atau berpihak pada peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya. Terwujudnya murid yang Bahagia, cerdas dan berkarakter. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 
 Hasil keputusan tentu tidak dapat memuaskan pada semua pihat, pro dan kontra tentu ada. Salah satu yang dilakukan adalah dengan komunikasi yang intens setelah pengambilan keputusan. Tentu mengacu pada etika pengambilan keputusan berlandaskan tiga prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai apakah Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Semua tergantung situasi dan kondisi yang ada. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 
Dalam proses pembelajaran yang saya lakukan sebagai guru melihat karakteristik siswa yang berbeda-beda adalah melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 
 Sesuai dengan teori/ materi bahwa pengambilan keputusan akan membawa dampak baik jangka pendek VS jangka panjang bagi murid-murid. Semua akan terekam dalam memori dan akan menjadi role model bagaimana kelak murid -murid berpikir dan berpijak. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, benar dan bijak melalui pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan murid-murid. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? 
 Kesimpulan pada pembelajaran modul 3 dan koneksinya pada modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiliki oleh guru jika dikorelasikan pada filosofi Ki Hajar Dewantara akan sangat relevan. Secara sadar keputusan itu akan mewarnai pola pikir dan karakter bagi murid-murid. Sekolah sebagai Lembaga yang melakukan proses transfer ilmu dan karakter selalu memberikan pelayanan kepada murid-murid tentu saja banyak pengambilan keputusan yang mewarnai kebijakan-kebijakan sekolah. Pengambilan keputusan harus bertujuan mewujudkan budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Pada pengambilan keputusan baik yang bersifat problem dilema etika dan bujukan moral pemecahan masalah berupa keputusan yang berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk merdeka belajar, karena dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan murid terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. Pembelajaran kokulikuler juga salah satu implementasi untuk mewujudkan karakter pelajar Pancasila. Berbagai tema dan dimensi yang disiapkan memungkinkan murid terbiasa dengan nilai-nilai positif dan pada akhirnya menjadi pembiasaan. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 
Terdapat 4 paradigma pengambilan keputusan : adalah landasan sesorang mengambil keputusan 
• Individu lawan masyarakat 
• kebenaran lawan kesetiaan 
• keadilan VS belas kasihan 
• Jangka Pendek VS jangka panjang 

Ada 3 prinsip mengambil keputusan 
• berfikir berbasis akhir 
• berfikir berbasi aturan 
• berfikir berbasi rasa peduli 

Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan 
• Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan 
• Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 
• Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini 
• Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola) 
• Pengujian paradigma benar atau salah 
• Prinsip pengambilan keputusan 
• Investigasi tri lema 
• Buat keputusan 
• meninjau kembali keputusan dan refleksikan 
Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? 
Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil keputusan dengan situasi dilema etika. Namun tidak mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan. Keputusan yang saya ambil biasanya hanya dari dua hal yang pertama sesuai dengan regulasi dan tidak merugikan orang lain. Tidak melalukan uji benar vs benar. Dalam modul ini saya belajar Langkah-langkah pengambilan keputusan dengan tepat dan akurat karena ada 5 uji benar vs benar. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? 
 Sebelumnya izinkan saya bersyukur atas apa yang sudah saya temui pada modul 3.1 ini. Banyak ilmu yang saya terima dan insyaalloh akan sangat bermanfaat untuk hari ini dan masa yang akan datang. Konsep yang saya pelajari memberikan dampak luar biasa bagi pola pikir saya. Sebelum bertemu dengan modul ini saya berpikir bahwa pengambilan keputusan hanya berdasarkan regulasi saja. Ternyata banyak hal yang menjadi dasar, ada 4 paradigma dilemma etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Serta konsep pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga saya lebih yakin dengan apa yang sudah saya tetapkan sebagai satu keputusan. Saya berencana akan mengimplementasikan dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam ikut serta pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi yang saya ikuti. Saya berharap pengambilan keputusan yang saya lakukan akan selalu berpihak pada murid. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? 
Bagi saya materi pada modul 3.1 sangat penting dan bermakna. Di lingkungan sekolah guru sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai warga sekolah banyak keputusan yang akan dikeluarkan menghasilkan kebijakan -kebijakan yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Guru harus memiliki keterampilan pengambilan keputusan untuk dapat mewujudkan itu semua. Keputusan yang bernilai kebajikan dan mampu mengimplementasikan 9 langkah pengambilan keputusan, sesuai 4 paradigma, 3 prinsip penyelesaian dilemma serta tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule


Kamis, Desember 15, 2022

Koneksi Antar Materi 2.3 COACHING Oleh : SYUKRI, S.Pd.I – CGP ANGK. 6 KAB. PIDIE

Koneksi Antar Materi 2.3

COACHING

Oleh :

SYUKRI, S.Pd.I – CGP ANGK. 6 KAB. PIDIE

 

A. Coaching dan Relevasinya dengan Pemikiran KHD

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee. Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif, Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman.

Hal ini sejalan dengan pemikiran sang Maestro Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (KHD) dimana menurutnya pendidikan itu adalah ada proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah social emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.

 

Coaching yang dilakukan oleh coach kepada coachee  membutuhkan empat keterampilan yaitu: 

1) Keterampilan membangun dasar proses coaching
2) Keterampilan membangun hubungan baik,
3) Keterampilan berkomunikasi
4) Keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

 

B. Peran Guru dalam Coaching

Peran guru di sekolah sebagai coach sangat penting dalam menciptakan kenyamanan bagi murid melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga timbullah rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai antara guru dan murid. Dengan kemampuan dan keterampilan bertanya dari seorang coach dapat menyadarkan murid akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya sehingga murid tersebut mendapatkan solusi atas permaslahannya sendiri. Dalam proses coaching, sangat jelas terlihat bahwa guru dan murid adalah mitra dalam belajar. Untuk itu guru dapat membantu murid menemukan kekuatan untuk bisa hidup sebagai manusia seutuhnya.

 Salah satu cara untuk meningkatkan potensi dan kemampuan murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat, profil dan kesiapan belajar.

akan selalu berupaya untuk menggali kebutuhan belajar murid dengan mendesain proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid. Selain itu, secara social emosional segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal.


Guru hendaknya tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan bertumbuh. dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif, menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik dengan kekuatan yang dimilikinya.

C. Konektivitas Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional.

Guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik. dalam hal ini,

Kihajar Dewantara mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Lebih lanjut pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Model TIRTA dapat membimbing guru untuk memiliki keterampilan coaching yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut : Tujuan utama pertemuan/pembicaraan; Identifikasi masalah coachee; Rencana aksi coachee; dan Tanggung jawab/komitmen. Tirta dikembangkan dari GROW model yaitu Goal (Tujuan), Reality (Hal – hal yang nyata), Option (Pilihan), dan Will (Keinginan untuk maju)  Adapun  aspek berkomunikasi untuk mendukung praktik coaching antara lain, Komunikasi Asertif menjadi Pendengar aktif, Bertanya reflektif dan Umpan balik positif. Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah.

 

 

Senin, November 21, 2022

BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Sekolah merupakan salah satuinstitusi / tempat untuk pembentukan karakter seseorang murid. Pendidikan karakter atau pembiasaan budaya postif di sekolah dapat dilakukan dengan hal pembiasan dan dimulai dari hal yang sederhana seperti menjaga kebersihan, menjaga kerapian, sopan dan santun. Seorang Pelajar Indonesia harus dapat membiasakan budaya positif terutama nilai profil pelajar pancasila dan penguatan pendidikan karekter yang dicanangkan oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan. Dalam menerapakan program tersebut sekolah sangat perlu membuat Panduan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter di sekolah.

Sebagai seorang pelajar Indonesia yang merupakan pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; senantiasa berpikir dan bersikap terbuka terhadap kemajemukan dan perbedaan, serta secara aktif berkontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan manusia sebagai bagian dari warga Indonesia dan dunia; merupakan pelajar yang mandiri. Terciptanya pendidikan karakter yang bertujuan bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat.

Panduan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter di sekolah agar program yang dibentuk dapat berjalan dengan efektif menurut Character Education Partnership (2010) yaitu: 1). Nilai inti (Core values) yang disusun didefinisikan, dilaksanakan, dan tertanam dalam budaya sekolah; 2). Karakter harus secara komprehensif menggambarkan cara berpikir, merasa, dan berperilaku; 3). Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif dan proaktif untuk mengembangkan karakter; 4). Sekolah harus menjadi komunitas yang menunjukkan rasa peduli; 5). Untuk mengembangkan karakter, murid membutuhkan kesempatan agar dapat berperilaku baik secara moral; 6). Melibatkan seluruh staf sekolah; 7). Memerlukan kepemimpinan positif (positive leadership) dari staf sekolah dan murid; 8). Melibatkan orang tua dan komunitas sekolah lainnya; 9). Menilai hasil pendidikan karakter dan melakukan improvisasi secara berkala.

Sebagai pendidik, kita diberikan tugas untuk dapat membentuk calon-calon penerus bangsa yang memiliki karakter jujur, berkeadilan, bertanggung jawab, peduli dan saling menghormati karena membangun karakteristik seseorang bukanlah hal yang mudah, bahkan sangat sulit akan tetapi semuanya itu akan terwujud jika dilakukan dengan bersama.


Senin, Agustus 30, 2021

LATIHAN SOAL BAHASA INGGRIS PEMINATAN

MATERI: CAUSE AND EFFECT        KELAS : XII MIPA                GURU: SYUKRI, S.Pd.I


A.   C H O I C E

Choose the best options A, B, C, D and E to answer the question

1. I love living in Australia …. the weather.
a. because
b. since
c. as
d. because of
e. But
 

2. The increase in the number of cans on the road has resulted …. more and more traffic jams.
a. in
b. to
c. at
d. for
e. and
 

3. “He got to work really, really late “Cos he missed his train”. Which cause and effect word is ‘Cos short for?

a. due to
b. because
c. as
d. since
e. neither
 

4. Keith lost his job due …. cutbacks in the department.
a. for
b. at
c. to
d. by
e. either
 

5. The increase in tropical storms in recent year has been …. global warming.
a. put up with
b. put down to
c. set down to
d. put to
e. both

6. …. being very rich, he never shows off.
a. Other than
b. Despite
c. Instead
d. Although
e. Furthermore

7. I am not feeling well, …. I will come to the party.
a. because
b. however
c. since
d. unless
e. eventhough

8. …. I had my lunch, I didn’t miss Pizza.
a. Although
b. Moreover
c. Finally
d. Already
e. Since

9. She never helps anyone …. having a lot of money.
a. whenever
b. however
c. inspite of
d. instead
e. eventhough

10. You shouldn’t go out … it’s raining heavily.
a. for
b. already
c. because
d. weather
e. but

11. I will follow you …. You go.
a. because
b. but
c. although
d. wherever
e. case

12. …. I was walking on the street, the accident happened.
a. While
b. When
c. Whereas
d. Unless
e. Otherwise

13. I can’t go further …. the street congestion.
a. because
b. because of
c. although
d. otherwise
e. whereas

14. Rita still got the bad mark…. she learns hard.
a. although
b. because
c. but
d. and
e. whenever

15. The electricity will be cut down …. Jaka pays his bill.
a. whereas
b. because
c. although
d. unless
e. and

 

B.   E S S A Y

                                                                    LONG DROUGHT 2011

Drought during 2011 has caused many problems. First, the people lack of clean water to either take a bath, wash clothes of drink. Consequently, the government has to spend more expenditure in social welfare. Second, many breeders do not find grass for their cattle, sheep and goats. As result, their animals get thinner day after day due to lack of enough food.

Third, many farmers who depend on rainfall can’t cultivates their land. Consequently, they do not get regular income from agribusiness. This also causes the farmer labors of losing their jobs. Therefore, poverty rate gets increased this year. Finally, the drought has a great impact on the water reservoir: dams, lake, Canal. Their water levels go down of even totally dry. All of those conditions are clearly due to mono cause that is long drought in our country.

Questions:

6. What is the first problem posed by the long drought in 2011?
 

7. What is the consequent of the scarcity of clean water?
 

8. Why do animals get thinners?
 

9. How can the drought impact the water reservoir?
 

10. When did the long drought occur?


sources:
https://www.infastpedia.net

Sabtu, Juli 17, 2021

SUNDAY THE TERRIBLE


EXERCISE 3 

(RECOUNT TEXT)

Read the text and answer the questions!


SUNDAY THE TERRIBLE

     Last week was a terrible day for me. My cousin and I were playing football in front of the house to spend time with us.

     First, it was really fun until I kicked the ball too strong, so the ball leaded me to the window and broke the window. when we want to escape. suddenly we all heard loud voice. After that, the owner of the house came out of the fence, She yelled at us. we were very afraid of her, but we do not know what to do. then, one of my cousin told us to run, we all ran, and suddenly we heard a sound of barking dog. Then we knew that the homeowners let her dog chased us. And we were struggling to run as fast as we can. But, I fell down so the dog capture me and bite my leg. It really hurt me. Then the dog ran back into the house. My cousin took me to the doctor and told my parents. In the end, the doctor said that I was exposed to rabies. then I was hospitalized for a week.

     That's a terrible day of the week for me, It may not happen to me again in the next week sunday.


ANSWER THE QUESTIONS BASED ON THE TEXT

1. What is the title of the story above?

2. When did it happen?

3. Why last week was the terrible story for the author..?

4. Who brought author to the doctor..?

5. How long the author hospitalized?

6. Find the action verb from the text?

EXERCISE 2

Find temporal sequence and conjunction from the text


VISITING YOGYAKARTA

On Wednesday, my students and I went to Yogyakarta. We stayed at Dirgahayu Hotel which is not far from Malioboro

On Thursday, we visited the temples in Prambanan. There are three big temples, the Brahmana, Syiwa and Wisnu temples. They are really amazing. We visited only Brahmana and Syiwa temples, because Wisnu temple is being renovated.

On Friday morning we went to Yogya Kraton. We spent about two hours there. We were lucky because we were led by a smart and friendly guide. Then we continued our journey to Borobudur. We arrived there at four p.m. At 5 p.m. we heard the announcement that Borobudur gate would be closed.

In the evening we left for Jakarta by wisata bus.

 


Pendidikan Guru penggerak Angkatan 6 pada saat ini, sudah memasuki pada modul ke-3 di bulan Februari 2023 sampai pada tugas 3.1.a.8 Koneksi ...